Oleh: baim | November 5, 2008

Bersyukur Ketika Sakit

Di sebuah kota yang terkenal dengan kota pahlawan dan juga mungkin beberapa daerah termasuk daerah Anda kini mulai beralih musim, dahulunya cuaca panas yang membuat kita membutuhkan air yang menyegarkan dan menghilangkan dahaga, kini gerimis mulai datang sekalipun terkesan tidak diundang. Kita pun tidak lupa untuk mengingat Allah subhanahu wa ta’ala, berdzikir kepadanya “Allahumma shoyyiban naafi’a“, Yaa Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat. Pergantian musim ini biasanya disebut dengan istilah “pancaroba”, sudah maklum diketahui setiap musim, bahwa setiap musim pancaroba datang maka tidak sedikit ummat Islam yang diberi ujian oleh Allah berupa sakit mulai dari sakit-sakit yang ringan seperti flu, demam, batuk sampai sakit yang cukup berat semisal demam berdarah. Di satu sisi ini merupakan ujian yang Allah berikan kepada kita, apakah kita menghadapinya dengan murka, bersabar, ridlo, atau bahkan bersyukur dengan panyakit yang menimpa kita. Inilah empat tingkatan ketika seseorang ditimpa musibah.

Ketika seseorang di beri ujian oleh Allah dengan penyakit yang menyapa dirinya mereka akan murka, marah-marah, jengkel kepada Rabb-nya atas apa yang ditimpakan kepada dirinya. ini hukumnya haram bahkan dapat menyeret seorang hamba kedalam kekufuran, wal’iyyadzubillah.  Allah berfriman,

Di antara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keaadaan itu, dan jika ditimpa suatu bencana berbaliklah ia ke belakang. Ia rugi dunia dan akhirrat” [Al-Hajj : 11]

Dan ketika dia bersabar dalam menghadapai ujian ini, Maka orang ini akan melihat bahwa suatu musibah itu berat, namun ia tetap menjaga imannya sehingga tidak marah-marah, meski ia berpandangan bahwa adanya musibah itu dan ketiadaannya tidaklah sama. Ini hukumnya wajib karena Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersabar. seperti kata penyair, bahkan orang sabar itu pahit rasanya tetapi lebih manis akibatnya dari pada madu.

Allah berfirman,

“Bersabarlah kalian, sesunguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar” [ Al-Anfal : 46]

Tingkatan yang ketiga adalah ridlo atas ujian ini, Yakni manusia ridlo dengan musibah yang menimpanya. Ia berpandangan bahwa ada dan tidaknya musibah sama saja baginya, sehingga adanya musibah tadi tidak memberatkannya. ia pun tidak merasa berat memikulnya. Ini dianjurkan dan tidak wajib menurut pendapat yang kuat. Perbedaan tingkatan ini dengan tingkatan sebelumnya nampak jelas karena adanya musibah dan tidak adanya sama saja dalam tingkatan ridlo. Adapun pada tingkatan sebelumnya, jika ada musibah dia merasakan berat, namun ia tetap bersabar.

Dan yang tingkatan tertinggi adalah orang yang justru bersyukur ketika ditimpa musibah, yang menjadi heran bagi kita, mengapa kita justru bersyukur ketika ditimpa ujian dengan panyakit yang menyapa kita ? maka jawabnya bahwa orang yang bersyukur terhadap penyakit yang menimpanya karena dia yakin bahwa Allah mengampuni dan memaafkan dosa dan kesalahan kita lantaran penyakit tersebut. Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit atau sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya, seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhori)

Inilah motivasi supaya kita bersyukur akan ujian penyakit yang menimpa kita, kita meyakini sabda Nabi kita shalallahu’alaihi wa sallam di atas sehingga kita semakin bersyukur atas ujian penyakit yang ditimpa oleh kita. Bahkan hanya sekedar keletihan, kecapaian, atau tertusuk duri yang kecil, semua itu dapat menghapuskan dosa kita, sebagaimana sabdanya shallahu’alaihi wasallam.

Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanaan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari).

Surabaya 4 Nov 2008

Referensi:

Ust Yazid bin Abdul Qadir Jawwas.2006. Doa dan Wirid. Pustaka Imam Syafii: Jakarta

Syaikh Utsaimin. ORANG YANG MARAH BILA DITIMPA MUSIBAH. Orang Yang Marah Bila Ditimpa Musibahhttp://www.almanhaj.or.id/content/697/slash/0
————————————————————————

ORANG YANG MARAH BILA DITIMPA MUSIBAH

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin ditanya : “Tentang orang yang marah-marah apabila ditimpa suatu musibah ?”

Jawaban.
Manusia terbagi menjadi empat tingkatan dalam menghadapi musibah.

Tingkatan Pertama : Marah-Marah
Ini terbagi kepada beberapa macam:

[1] Terjadi di dalam hati, misalnya jengkel terhadap Rabb-nya karena taqdir buruk menimpanya. Ini haram hukumnya, terkadang bisa menjerumuskan kepada kekufuran. Allah Ta’ala berfirman. :

“Artinya : Di antara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keaadaan itu, dan jika ditimpa suatu bencana berbaliklah ia ke belakang. Ia rugi dunia dan akhirrat” [Al-Hajj : 11]

[2] Dengan lidah, misalnya meminta celaka dan binasa dan yang semisal itu. Ini juga haram.

[3] Dengan anggota tubuh seperti menampar pipi, merobek saku, menjambak rambut dan semisalnya. Semua ini haram karena bertentangan dengan sabar yang merupakan kewajiban.

Tingkatan Kedua : Bersabar
Seperti diucapkan oleh seorang penyair ; sabar seperti namanya, pahit rasanya tetapi lebih manis akibatnya dari pada madu. Maka orang ini akan melihat bahwa suatu musibah itu berat, namun ia tetap menjaga imannya sehingga tidak marah-marah, meski ia berpandangan bahwa adanya musibah itu dan ketiadaannya tidaklah sama. Ini hukumnya wajib karena Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersabar.

Dia berfirman :

“Artinya : Bersabarlah kalian, sesunguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar” [ Al-Anfa : 46]

Tingkatan Ketiga : Ridha
Yakni manusia ridha dengan musibah yang menimpanya. Ia berpandangan bahwa ada dan tidaknya musibah sama saja baginya, sehingga adanya musibah tadi tidak memberatkannya. ia pun tidak merasa berat memikulnya. Ini dianjurkan dan tidak wajib menurut pendapat yang kuat. Perbedaan tingkatan ini dengan tingkatan sebelumnya nampak jelas karena adanya musibah dan tidak adanya sama saja dalam tingkatan ridha. Adapun pada tingkatan sebelumnya, jika ada musibah dia merasakan berat, namun ia tetap bersabar.

Tingkatan Keempat : Bersyukur
Ini merupakan tingkatan yang paling tinggi. Di sini seseorang bersyukur atas musibah yang menimpanya karena ia memahami bahwa musibah ini menjadi sebab pengampunan kesalahan-kesalahannya bahkan mungkin malah menambah kebaikannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Tidaklah satu musibah menimpa seorang muslim kecuali dengannya Allah mengampuni dosa-dosanya sampai sebuah duripun yang menusuknya”

[Disalin kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.