Sheikh Abdullah Azzam Bersama Kafilah Para Syuhada

"Sheikh AbdullahAzzam bukanlah orang biasa. Dia mewakili satu bangsa, satu
Ummat. Tubuh Ummat ada di dalam dirinya. Setelah kematiannya, para muslimah
sejauh ini gagal melahirkan seorang laki-laki yang mampu menggantikan
Beliau". [Usama bin Ladin, wawancara dengan TV Al-Jazeera, 1999] "Dialah
yang bertanggung jawab membangkitkan kembali Jihad di abad 20 ini".
[Majalah Time] "Dia tidak hanya mewakili dirinya sendiri, melainkan seluruh
Ummat. Ucapannya tidaklah seperti ucapan orang biasa. Sedikit bicaranya,
namun kandungannya sangat dalam. Jika engkau menatap matanya, hatimu akan
terpenuhi dengan iman dan cinta kepada Allah SWT".

[Ulama Mujahid asal Mekkah] " Tidak satupun Tanah Jihad di seluruh dunia,
tidak seorangpun Mujahid yang berjuang di Jalan Allah, yang tidak
terinspirasi oleh hidup, ajaran dan karya Sheikh Abdullah Azzam".

[Azzam Publications] " Pada dekade 1980-an, Syuhada Sheikh Abdullah Azzam
mencetuskan satu kalimat yang maknanya bergaung di seluruh medan pertempuran
Chechnya saat ini. Sheikh Abdullah Azzam Rahmatullah 'Alaihi menggambarkan
bahwa Para Mujahid yang gugur dalam pertempuran bergabung bersama "Kafilah
Para Syuhada".

[Ibnu Al-Khattab, Panglima Mujahidin Chechnya]

Abdullah Yusuf Azzam lahir pada tahun 1941 di Desa Asba'ah Al-Hartiyeh,
Propinsi Jiniin, Tanah Suci Palestina yang diduduki Israel. Beliau
dibesarkan di sebuah rumah yang bersahaja dimana Beliau dididik agama Islam,
ditanamkan kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya SAW, terhadap Mujahid yang
berjuang di Jalan-Nya dan terhadap orang-orang yang shaleh yang mencintai
kehidupan akhirat.Semasa masih kanak-kanak, Abdullah Azzam sangat menonjol
di antara anak-anak lainnya. Beliau sudah mulai menyiarkan dakwah Islam
semenjak masih sangat muda. Teman-teman sepergaulan mengenal Beliau sebagai
seorang anak yang shaleh.

Beliau telah menunjukkan tanda-tanda yang luar biasa sejak muda dan
guru-guru Beliau telah mengenali tanda-tanda ini sejak Beliau masih di
Sekolah Dasar. Sheikh Abdullah Azzam dikenal karena ketekunan dan
kesungguhannya bahkan sejak masih kecil, Beliau memperoleh pendidikan dasar
dan menengah di desanya dan kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah
Tinggi Pertanian Khadorri hingga memperoleh gelar. Meskipun Beliau yang
termuda di antara teman-temannya, namun Beliau adalah yang terpandai dan
terpintar. Setelah menamatkan pendidikannya di Khadorri Beliau bekerja
sebagai guru di Desa Adder, Yordania Selatan. Kemudian Beliau menuntut ilmu
di Fakultas Syariah, Universitas Damaskus Suriah hingga memperoleh gelar
B.A. di bidang Syariah pada tahun 1966.

Ketika tentara Yahudi merebut Tepi Barat pada tahun 1967, Sheikh Abdullah
Azzam memutuskan untuk pindah ke Yordania, karena Beliau tidak ingin hidup
di Palestina yang berada di bawah pendudukan Yahudi. Melihat bagaimana
tank-tank Israel maju memasuki Tepi Barat tanpa mendapatkan perlawanan yang
berarti, menimbulkan perasaan bersalah dalam diri Beliau, sehingga membuat
Beliau semakin mantap untuk hijrah dengan maksud agar dapat mempelajari ilmu
perang.

Pada akhir dekade 1960-an, dari Yordania Beliau bergabung dalam Jihad
menentang pendudukan Israel atas Palestina. Tidak lama kemudian Beliau pergi
belajar ke Mesir dan memperoleh gelar Master dalam bidang Syariah di
Universitas Al-Azhar, Kairo. Pada tahun 1970, setelah Jihad terhenti karena
kekuatan PLO diusir keluar dari Yordania, Beliau menjadi dosen di
Universitas Yordania di Amman. Setahun kemudian, tahun 1971, Beliau
memperoleh beasiswa dari Universitas Al-Azhar dimana Beliau melanjutkan
pendidikan S3 dan memperoleh gelar Ph.D dalam bidang Pokok-Pokok Hukum Islam
(Ushul-Fiqh) tahun 1973. Selama di Mesir inilah Beliau mengenal keluarga
Syuhada Sayyid Qutb (1906-1966). Sheikh Abdullah Azzam cukup lama turut
serta dalam Jihad Palestina. Namun ada hal yang tidak disukainya, yaitu
orang-orang yang terlibat di dalamnya sangat jauh dari Islam. Beliau
menggambarkan bagaimana orang-orang ini berjaga-jaga sepanjang malam sambil
bermain kartu dan mendengarkan musik, dan menganggap bahwa mereka sedang
menunaikan Jihad untuk membebaskan Palestina. Sheikh Abdullah Azzam
menyebutkan juga meskipun ada ribuan orang di basis-basis pemukiman, tetapi
jumlah orang yang hadir untuk shalat berjama?ah bisa dihitung dengan satu
tangan saja. Beliau berusaha mendorong mereka untuk menerapkan Islam
sepenuhnya, namun mereka bertahan untuk menolak. Suatu hari Beliau bertanya
kepada seorang "Mujahid" secara retoris, agama apa yang ada di belakang
revolusi Palestina, "Mujahid" itu menjawab dengan jelas dan gamblang,
"Revolusi ini tidak memiliki dasar agama apapun".

Habislah sudah kesabaran Abdullah Azzam. Beliau kemudian meninggalkan
Palestina, pindah ke Saudi Arabia dan mengajar di berbagai universitas di
sana.Saat Sheikh Abdullah Azzam menyadari bahwa hanya dengan kekuatan yang
terorganisir Ummat ini bisa menggapai kemenangan, lalu Jihad dan senjata
adalah kesibukan dan pengisi waktu luangnya.

"Jihad hanya dengan senjata. TIDAK dengan Negosiasi, TIDAK dengan
Perundingan Damai, TIDAK dengan Dialog", kalimat tersebut menjadi semboyan
Beliau. Beliau praktekkan apa yang selalu Beliau kumandangkan, sehingga
membuat Beliau menjadi salah satu di antara orang Arab pertama yang
bergabung dalam Jihad di Afghanistan melawan Uni Soviet yang komunis. Pada
tahun 1980, ketika masih di Saudi Arabia, Abdullah Azzam memperoleh
kesempatan berjumpa dengan satu delegasi Mujahidin Afghanistan yang datang
untuk menunaikan ibadah Haji. Segera Beliau tertarik dengan kelompok ini dan
ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai Jihad Afghanistan. Ketika
dijabarkan kepadanya, Beliau merasa inilah yang sudah sejak lama sekali
Beliau cari-cari.Beliau segera melepaskan jabatannya sebagai dosen di
Universitas King Abdul-Aziz Jeddah Saudi Arabia, dan berangkat menuju
Islamabad Pakistan supaya dapat ikut serta dalam Jihad. Beliau pindah ke
Pakistan agar dapat lebih dekat dengan Jihad Afghanistan, dan di sanalah
Beliau mengenal pemimpin-pemimpin Mujahidin. Saat-saat pertama berada di
Pakistan, Beliau ditunjuk untuk memberikan kuliah di International Islamic
University di Islamabad. Namun tidak lama hal ini berlangsung, karena Beliau
memutuskan untuk meninggalkan universitas agar bisa mencurahkan seluruh
waktu dan energinya untuk Jihad Afghanistan. Pada permulaan dekade 1980-an,
Sheikh Abdullah Azzam langsung turun ke medan Jihad Afghanistan. Di Jihad
inilah Beliau merasa puas bisa memenuhi kerinduan dan cinta yang tak
terlukiskan untuk berjuang di Jalan Allah, persis seperti suatu kali
Rasulullah SAW bersabda : "Berdiri satu jam dalam pertempuran di Jalan Allah
lebih baik daripada berdiri menunaikan shalat selama enam puluh tahun".

Terinspirasi oleh Hadits ini, Sheikh Abdullah Azzam beserta keluarganya
memutuskan pindah ke Pakistan agar lebih dekat dengan medan Jihad. Tidak
lama setelah itu Beliau pindah lagi dari Islamabad ke Peshawar supaya bisa
lebih dekat lagi dengan medan Jihad dan Syahid.Di Peshawar, bersama dengan
Usama bin Ladin yang juga teman dekatnya, Sheikh Abdullah Azzam mendirikan
Baitul-Anshar (Mujahideen Services Bureau atau Kantor Pelayanan Mujahidin)
dengan tujuan untuk menawarkan semua bantuan yang memungkinkan bagi Jihad
Afghanistan dan Para Mujahid dengan cara mengadakan dan me-manage berbagai
proyek yang menunjang Jihad. Kantor ini juga menerima dan melatih para
sukarelawan (Foreign Mujahideen) yang berbondong-bondong datang ke Pakistan
untuk ikut serta dalam Jihad dan mengatur penempatan mereka di garis depan.

Dapat diduga, semua hal ini masih belum cukup memuaskan keinginan Sheikh
Azzam yang menggebu-gebu berjihad. Keinginan inilah yang akhirnya membawanya
pergi ke garis depan. Di medan pertempuran Sheikh Abdullah Azzam mengambil
peranan dengan sikap ksatria dalam perjuangan yang penuh dengan pengorbanan
yang besar. Di Afghanistan Beliau jarang menetap di suatu tempat. Beliau
selalu berkeliling ke seluruh pelosok negeri mengunjungi hampir seluruh
propinsi dan wilayah seperti Logar, Kandahar, Pegunungan Hindukush, Lembah
Panshir, Kabul dan Jalalabad. Dalam kunjungan ini, Sheikh Abdullah Azzam
menyaksikan secara langsung kepahlawanan orang-orang awam yang telah
mengorbankan segala apa yang dimiliki termasuk jiwa mereka demi jayanya Dien
Islam. Di Peshawar, setelah kembali dari berkeliling, Sheikh Azzam selalu
berbicara tentang Jihad secara kontinyu. Beliau selalu berdo'a agar Para
Komandan Mujahidin yang terpecah belah dapat bersatu padu. Beliau selalu
mengundang orang-orang yang belum bergabung dalam pertempuran untuk
memanggul senjata dan maju ke garis depan sebelum terlambat.

Abdullah Azzam sangat dipengaruhi oleh Jihad Afghanistan dan Beliaupun
sangat besar pengaruhnya pada Jihad ini sejak Beliau mengabdikan diri
sepenuhnya dalam perjuangan ini. Beliau menjadi salah satu tokoh yang paling
menonjol dan berpengaruh bersama dengan pemimpin-pemimpin bangsa Afghanistan
lainnya. Beliau tidak tanggung-tanggung mempromosikan perjuangan Afghanistan
ke seluruh dunia, khususnya ke kalangan Ummat Islam. Beliau berkeliling
dunia, menyampaikan panggilan kepada Kaum Muslimin untuk beraksi
mempertahankan agama dan Tanah Muslim. Beliau menulis sejumlah buku tentang
Jihad, seperti Join the Caravan, Signs of Ar-Rahman in the Jihad of the
Afghan, Defence of the Muslim Lands dan Lovers of the Paradise Maidens.
Bahkan Beliau turun langsung ke medan Jihad Afghanistan, meskipun usia
Beliau telah lebih dari 40 tahun. Beliau menjelajahi Afghanistan, dari utara
ke selatan, dari timur ke barat, menembus salju, mendaki pegunungan, di
bawah panas terik matahari dan dingin yang membekukan tulang, dengan
menunggang keledai maupun berjalan kaki. Banyak Pemuda yang bersama Beliau
kelelahan, namun Sheikh Abdullah Azzam tidak. Beliau merubah pandangan Ummat
Islam terhadap Jihad di Afghanistan dan menjadikan Jihad ini sebagai
perjuangan yang Islami yang merupakan kewajiban seluruh Ummat Islam di
dunia. Hasil dari usaha ini adalah Jihad Afghanistan menjadi universal
dimana Ummat Islam dari seluruh dunia turut serta. Para Pejuang Muslim dari
seluruh penjuru dunia secara sukarela berdatangan ke Afghanistan untuk
memenuhi kewajiban Jihad dan membela Saudara-saudara Muslimin dan Muslimah
mereka yang tertindas.

Kehidupan Sheikh Azzam berkisar hanya kepada satu tujuan, yakni menegakkan
Hukum Allah di muka bumi ini, yang merupakan tanggung jawab yang pasti bagi
setiap dan segenap Ummat Muslim. Dalam rangka melaksanakan tugas suci dalam
hidup ini yaitu menegakkan kembali Khilafah Islamiyyah (negara yang
berdasarkan pada hukum Islam), Sheikh Azzam mengkonsentrasikan kepada Jihad
(perjuangan bersenjata untuk menegakkan Islam). Beliau berkeyakinan bahwa
Jihad wajib dilaksanakan sampai Khilafah Islamiyyah ditegakkan sehingga
cahaya Islam menerangi seluruh dunia.

Beliau juga menjaga dan memelihara keluarganya dengan semangat perjuangan
yang sama, sehingga istrinya, sebagai contoh, aktif mengurus anak-anak yatim
piatu dan aktif dalam berbagai tugas kemanusiaan di Afghanistan. Beliau
menolak jabatan di beberapa universitas dengan menyatakan bahwa dirinya
tidak akan pernah meninggalkan Jihad kecuali jika gugur di medan perang atau
terbunuh. Beliau selalu menekankan kembali bahwa tujuannya yang terakhir
adalah membebaskan Tanah Suci Palestina. Dalam hal ini Beliau menyatakan:
"Saya tidak akan meninggalkan Tanah Jihad kecuali karena tiga hal. Pertama,
saya terbunuh di Afghanistan. Kedua, saya terbunuh di Pakistan. Ketiga, saya
diborgol dan diusir dari Pakistan"

Jihad di Afghanistan telah membuat Abdullah Azzam menjadi penyangga utama
dalam gerakan Jihad di jaman modern sekarang. Dengan turun langsung dalam
Jihad ini dan dengan mempromosikannya serta menjelaskan kendala-kendala yang
menghambat gerakan Jihad, Beliau memiliki peranan yang sangat berarti dalam
meluruskan pendapat Ummat Islam tentang Jihad dan perlunya menegakkan Jihad.
Beliau menjadi panutan bagi generasi muda yang menyambut panggilan Jihad.
Beliau amat mementingkan Jihad dan butuh akan Jihad. Sekali waktu Beliau
berkata :"Saya merasa seolah-olah berumur 9 tahun. Tujuh setengah tahun
dalam Jihad di Afghanistan dan satu setengah tahun dalam Jihad di Palestina.
Sisa tahun lainnya tidak berarti sama sekali".

Dari atas mimbar Sheikh Azzam berulangkali menekankan keyakinannya : "Jihad
tidak boleh ditinggalkan sampai hanya Allah SWT saja yang disembah. Jihad
akan terus berlangsung sampai Kalimat Allah ditinggikan. Jihad sampai semua
orang yang tertindas dibebaskan. Jihad untuk melindungi kehormatan kita dan
merebut kembali Tanah kita yang dirampas. Jihad adalah Jalan untuk mencapai
kejayaan abadi?.

Sejarah dan semua orang yang mengenal dekat Sheikh Abdullah Azzam mencatat
keberanian Beliau dalam berbicara tentang kebenaran, dengan mengabaikan
segala konsekuensi yang ada.Setiap saat Sheikh Abdullah Azzam mengingatkan
seluruh Kaum Muslimin bahwa :"Ummat Islam tidak dapat dikalahkan oleh ummat
lainnya. Kita Ummat Islam tidak akan dikalahkan oleh musuh-musuh kita, namun
kita bisa dikalahkan oleh diri kita sendiri".

Sheikh Abdullah Azzam adalah contoh seorang yang berperilaku Islami dengan
baik, dengan amal shalehnya, dengan ketaqwaannya kepada Allah SWT dan dengan
kesederhanaannya dalam segala hal. Beliau tidak pernah mencemari hubungan
baiknya dengan orang lain. Sheikh Azzam selalu mendengarkan pendapat Para
Pemuda, Beliau amat disegani dan tidak terbersit sedikitpun rasa takut di
dalam hatinya. Beliau selalu berpuasa selang seling hari seperti yang
dilakukan Nabi Daud AS. Dan juga selalu menghimbau yang lainnya untuk
berpuasa hari Senin dan Kamis. Sheikh Azzam adalah orang yang selalu
berterus terang, tulus dan mulia. Beliau tidak pernah mencaci orang lain
atau berbicara yang tidak baik mengenai orang lain.Satu saat sekelompok
Muslim yang tidak puas di Peshawar mencap Sheikh Azzam sebagai kafir dan
menuduhnya meminta uang dari Kaum Muslimin untuk dihambur-hamburkan. Ketika
Sheikh Azzam mendengar hal ini, Beliau tidak mencari dan mendebat mereka,
malah mengirimi mereka berbagai hadiah. Namun kelompok tersebut tetap saja
mencaci maki, mengumpat dan memfitnah Beliau, dan Beliau terus saja
mengirimi mereka hadiah lainnya. Bertahun-tahun kemudian, ketika akhirnya
menyadari kesalahannya, mereka berkomentar :

"Demi Allah, kami belum pernah menemui seseorang seperti Sheikh Abdullah
Azzam. Beliau tetap saja memberi kami uang walaupun kami selalu mengutuk dan
mencaci Beliau"

Selama Jihad Afghanistan berlangsung, Beliau telah berhasil menyatukan
berbagai kelompok Mujahidin dalam Jihad ini. Dan tentu saja kebanggaan
Beliau terhadap Islam menimbulkan rasa benci di kalangan musuh agama,
sehingga musuh membuat rencana untuk menghabisi nyawa Beliau. Pada November
1989, sejumlah bahan peledak TNT diletakkan di bawah mimbar dimana Beliau
selalu menyampaikan khutbah setiap hari Jum?at. Demikian besar jumlah
peledak tersebut sehingga seandainya meledak akan menghancurkan seluruh
Masjid termasuk apa saja dan siapa saja yang ada di dalamnya. Ratusan
Muslimin dapat terbunuh. Namun Allah memberikan perlindungan-Nya dan bom
tersebut tidak meledak.

Musuh-musuhpun semakin berhasrat melaksanakan rencana gilanya. Mereka
mencobanya sekali lagi di Peshawar, tidak lama berselang setelah kejadian
tersebut. Ketika itulah Allah SWT berkehendak agar Sheikh Abdullah Azzam
meninggalkan dunia ini menuju haribaan-Nya (kita berharap demikian Insya
Allah). Dan Sheikh wafat dengan cara yang gemilang pada hari Jum'at 24
November 1989 pukul 12.30 siang.Musuh-musuh Allah meletakkan tiga bom di
jalan yang sempit dimana hanya bisa dilewati satu mobil saja. Jalan tersebut
adalah jalan yang biasa dilalui oleh Sheikh Abdullah Azzam untuk menunaikan
shalat Jum'at. Pada hari Jum'at itu, Sheikh Azzam bersama dengan dua
anaknya, Ibrahim dan Muhammad, serta salah seorang anak Syuhada Sheikh Tamim
Adnani (salah seorang Pahlawan Jihad Afghanistan lainnya), melalui jalan
tersebut. Mobil pun berhenti di mana bom yang pertama berada, dan Sheikh
Azzam turun untuk meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Musuh-musuh
yang sudah menanti segera memicu bom yang telah mereka persiapkan tersebut.
Bunyi ledakan dahsyat mengguncang hebat terdengar di seluruh penjuru kota.

Orang-orang berhamburan keluar dari Masjid, dan menyaksikan pemandangan yang
mengerikan. Hanya sedikit saja yang tersisa dari kendaraan yang hancur
lebur. Tubuh anaknya yang kecil, Ibrahim, terlempar ke udara sejauh 100
meter, demikian pula dengan kedua anak lainnya, beterbangan pada jarak yang
hampir sama. Potongan-potongan tubuh mereka tersebar di pohon-pohon dan
kawat-kawat listrik. Sementara tubuh Syahid Sheikh Abdullah Azzam tersandar
di dinding, tetap utuh dan tidak cacat sama sekali, kecuali sedikit darah
terlihat mengalir dari mulut Beliau.

Ledakan itu telah mengakhiri perjalanan hidup Sheikh Abdullah Azzam di
dunia, yang telah Beliau lalui dengan baik melalui perjuangan, daya upaya
sepenuhnya, dan pertempuran di Jalan Allah SWT. Hal ini semakin menjamin
kehidupannya yang sebenarnya dan abadi di Taman Surga -kita memohon kepada
Allah demikian, dan menikmatinya bersama dengan teman-teman yang mulia yakni
: "Dan barangsiapa yang mena?ati Allah dan Rasul-Nya mereka ini akan
bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu :
Para Rasul, Para Shiddiqiin, Orang-orang yang mati Syahid dan Orang-orang
Shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya" [QS An-Nisaa:69]

Dengan cara seperti inilah Pahlawan Besar dan Penggerak Kebangkitan Islam
meninggalkan medan Jihad dan dunia ini, dan tidak akan pernah kembali lagi.
Beliau dimakamkan di Makam Para Syuhada Pabi di Peshawar Pakistan, dimana
Beliau bergabung bersama-sama dengan ratusan Syuhada lainnya. Semoga Allah
menerima Beliau sebagai Syuhada dan menganugerahinya tempat tertinggi di
Surga. Pertempuran yang telah Beliau lalui dan telah Beliau perjuangkan
tetap berlanjut melawan musuh-musuh Islam. Tidak satupun Tanah Jihad di
seluruh dunia, tidak seorangpun Mujahid yang berjuang di Jalan Allah, yang
tidak terinspirasi oleh hidup, ajaran dan karya Sheikh Abdullah Azzam
Rahmatullah 'Alaihi.

Kita memohon kepada Allah SWT untuk menerima amal ibadah Beliau dan
menempatkan Beliau di Surga Tertinggi. Kita memohon kepada Allah SWT untuk
membangkitkan dari Ummat ini Ulama-Ulama lain sekaliber Beliau, yang
menerapkan pengetahuannya di medan perjuangan, bukan hanya menyimpannya di
dalam buku dan di dalam Masjid saja.Melalui biografi ini, kami merekam
kejadian-kejadian dalam sejarah Islam selama sepuluh tahun terakhir dari
tahun 1979 hingga 1989, dan akan terus berlanjut sebagaimana Sheikh Abdullah
Azzam berkata :

"Sesungguhnya sejarah Islam tidaklah ditulis melainkan dengan darah Para
Syuhada, dengan kisah Para Syuhada, dengan teladan Para Syuhada""Mereka
berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut mereka, dan Allah
tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang
kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa
petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala
agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai" [QS At-Taubah:32-33].